tanpa judul

Di jaman modern sekarang ini banyak orang tua yang lebih mempercayakan tempat les dibandingkan guru-guru di sekolahnya. Tidak percaya? Lihat saja tempat-tempat les di daerah anda, selepas pulang sekolah tempat itu penuh sesak apa lagi menjelang ujian negara dan UMPTN.

Bagi orang tua dapat melihat anaknya berprestasi kini merupakan sebuah keharusan dengan analogi orang tua sudah memberikan uang yang tidak sedikit bagi pendidikan mereka (beberapa orang tua menganggap ini sebagai bekal di masa depan) maka sudah seharusnya si anak membalas dengan sebuah prestasi atau minimal diundang oleh sekolah untuk mendapat penghargaan.

Analogi seperti itu memang baik di jamannya, tapi untuk jaman sekarang tampaknya sulit untuk dilaksanakan dengan baik. Dengan baik di sini bukan berati ketika si anak sekolah, les lalu berhasil. Dengan baik di sini berati adanya interaksi positif antara si anak dan orang tua.

Jaman dahulu kala (dimana sinetron dan BlackBerry belum berkeliaran) anak takut kepada orang tua, namun jaman sekarang tampaknya derajat anak sudah naik. Banyak kasus pada jaman sekarang ini dimana si anak melawan orang tua baik orang tua kandung maupun orang yang lebih tua di lingkungan sosialnya. Apakah berarti telah terjadi kemerosotan moral? Bila ya, apa dan siapa penyebabnya?

Kemerosotan moral dapat dipicu oleh beberapa hal baik secara langsung (instan) ataupun bertahap. Pemicu secara langsung dapat dengan mudah di atasi, contoh dari pemicu langsung adalah televisi atau media. Bayangkan ketika Super Junior lewat atau di gosipkan di media berapa banyak twit yang melayang, apakah ini penting atau mempengaruhi hidup anda secara langsung? Tidak!

Pemicu secara langsung dapat dengan mudah diatasi dengan bimbingan yang tepat dari pihak orang tua, komunikasi aktif adalah kuncinya. Memahami anak anda dalam berprilaku setiap harinya mulai dari acara apa yang paling sering ia lihat, berita apa yang menarik perhatiannya dan beberapa hal detail sekalipun dapat menjadi pertimbangan bagi anda untuk mencari bahan pembicaraan santai untuk sekedar memantau bagaimana psikologi si anak.

Pemicu kedua adalah pemicu bertahap. Pemicu ini dapat saya analogikan sebagai bom waktu yang dapat meledak kapan saja.

Bila pada pemicu instan kita sebagai orang tua dapat langsung melihat hasil perilakunya yang berubah drastis, hasil dari pemicu instan ini tidak dapat disembunyikan oleh si anak karena hal itu terjadi secara spontan. Lain halnya dengan pemicu bertahap, hasil dari pemicu ini tidak dapat dilihat secara instan, proses dari pemicu ini berlangsung secara bertahap, pelan namun pasti.

Lingkungan sosial yang buruk, perlakuan orang tua dan kerabat seringkali menjadi sumber dari pemicu ini. Tidak dapat atau tidak berani mengajukan pendapatnya seringkali menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Ketika ada sesuatu yang mengganjal anak ini tidak dapat mengungkapkannya karena takut dan hasilnya adalah terlahirnya berbagai pemikiran yang akhirnya menjadi sebuah pemikiran bagaimana ia harus hidup.

Untuk kasus pemicu bertahap, perlakuan orang tua dapat seringkali menjadi masalah utama karena sebagian besar jam anak dihabiskan di rumah. Contoh sederhananya adalah televisi. Orang tua yang menaruh alat elektronik di kamar anak cenderung si anak bersikap taat pada orang tua (rata-rata), cenderung terbuka dan kesehariannya dapat dipantau dengan mudah melalui handphone atau tasnya.

Sedangkan orang tua yang tidak menaruh televisi di kamar anaknya, si anak cenderung tertutup, teman atau benda menjadi pelariannya, sikap dan moodnya sulit di tebak, 70% dari mereka adalah penyuka warna gelap, cenderung memiliki banyak kepribadian yang merupakan hasil dari pemikirannya.

Untuk masalah dari pemicu langsung mungkin sebagian dari anda telah dan sudah menemukan jawabannya, namun bagaimana dengan pemicu bertahap?

Tidak di terima atau merasa di rendahkan adalah masalah pokok dari semuanya ini, biarkan anak anda berkreasi dengan imajinasinya tapi ingat harus tetap anda pantau karena imajinasinya ini seringkali berbuah kenyataan. Arahkan kegiatan sehari-harinya agar ia sibuk dan tidak sempat berimajinasi atau berpikir taktis seperti menyuruh membersihkan lemari atau intinya pekerjaan fisik.

Dengan kegiatan seperti itu si anak dengan imajinasi kreatifnya seringkali menemukan sebuah konsep atau ide kreatif positif. Bila sudah terjadi demikian giliran anda untuk mendukung dengan aliran dana karena biasanya ide mereka membutuhkan dana yang terbilang lumyan.

Bila mereka berhasil mereka akan memuji diri sendiri dan rasa percaya dirinya akan bangkit.

Hal itu adalah sisi positifnya, sisi negatifnya adalah kadangkala ia memiliki teman yang musiman. Saat SD dia berteman dengan A, SMP dengan B dan A di lupakan begitu selanjutnya. Ia cenderung menjauh dari lingkungan sosial yang ia anggap tidak bonafit bagi dirinya.

Kembali lagi ke paragraf awal tentang les. Menurut anda hal ini menekan atau?

Jaman sekarang, sebelum anda menentukan anak harus A dan B, anda harus terbuka kepada anak. Terima semua masukan dan keinginannya, bila menurut anda buruk beritahu secara halus dan masuk akal.

Ingat anak selalu berpikiran selangkah di depan orang tua, namun karena langkahnya yang terlalu cepat kadangkala terperosok dalam kegagalan.

 

Akhir kata, tulisan ini merupakan pemikiran penulis dan tidak mencatut atau mengambil dari sumber manapun. Semuanya asli dari kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s