Ujian SIM Berkala

Di pagi hari yang cerah di awal minggu saya melaju menunggangi motor kesayangan, saat motor keluar dari garasi rumah semuanya tampak seperti biasanya.

Udara sejuk mengundang semangat untuk bangkit menghadapi ‘kerasnya’ perjuangan di awal minggu. Tak ada dua puluh menit saya di kejutkan oleh kemacetan yang terjadi di tempat yang tidak biasa. Mengapa tidak biasa? Sebab selama saya tinggal selama 21 tahun di Bandung daerah tersebut tidak pernah mengalami yang namanya ‘macet’. Sontak saja hal ini membuat saya kaget dan tentunya membuat waktu yang saya miliki menjadi semakin sedikit untuk datang pagi di kantor.

Macet bagi saya adalah hal lumrah bila penyebabnya jelas seperti misalnya ada perbaikan jalan/gorong-gorong/kabel/saluran PDAM. Tapi bila penyebab kemacetan tidak jelas, tentu itu akan membuat emosi siapa saja memuncak, apa lagi bila si pemicu ini adalah angkot yang ‘ngetem’ dan menghalangi jalan.

Namun pagi itu tidak ada angkot atau perbaikan jalan, namun yang ada adalah seorang wanita yang menunggang mobil hendak memutar arah. Di lihat dari sudut putarannya saja sudah jelas bila ia harus ‘attreat’ (mundur) sedikit untuk melanjutkan putarannya, namun tampaknya ia sangat kesulitan untuk melakukannya.

Nah, yang seperti ini lah yang seharusnya di beri pelajaran. Bukan maksud saya negatif, tapi bayangkan bila ada sedikitnya 100 orang seperti itu berlalu lalang tiap hari di jalanan kota Bandung (atau kota lainnya), bukan tidak mungkin bila kemacetan akan menghantui para pengguna jalan.

Hal pertama yang tersirat di pikiran saya (mungkin juga orang lain yang berada di tempat tersebut) adalah, apakah wanita ini bisa menyetir mobil? Apakah dia memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi)?

Namun, pada jaman seperti sekarang ini bisa di pastikan bila si ibu tadi memiliki SIM. Mengapa demikian? Karena dengan ‘pe-de nya’ ibu ini bisa menunggang mobil dan sudah pasti ia ‘menembak’ saat membuat SIM.

Unek-unek yang mengganjal di kepala saya sekarang ini adalah, dapatkah kiranya Polisi atau aparat pemerintah setempat membuat peraturan baru berupa ujian SIM secara berkala?

Mungkin sebagian orang mencibir ide saya ini dikarenakan oleh ‘sudah pasti mereka-mereka yang tadinya menembak SIM akan kembali menembak agar lolos ujian’.

Yah, mungkin saja begitu. Namun, saya menaruh harapan besar kepada pemerintah DKI saat ini, ya Jokowi dan Ahok.

Saya kira harapan besar tentu harus di mulai dengan langkah besar pula, ide saya ini mungkin sulit bila di terapkan di masyarakat. Tapi, bukan tidak mungkin bila ide ini di lancarkan di DKI mengingat sepak terjang kedua pimpinan DKI ini sangat bagus dan tegas.

Ada pun dampak yang saya bayangkan bila sistem ujian berkala ini berhasil adalah kemacetan akan berkurang.

Mengapa? Bayangkan, bila 40% dari peserta ujian gagal maka sudah pasti mereka tidak memiliki hak untuk menggunakan kendaraan pribadi yang berarti transportasi umum menjadi pilihan utama dan satu-satunya.

Setelah mengurangi kemacetan, polusi udara setempat sudah pasti menurun, pendapatan pekerja angkutan umum sudah pasti meningkat, dan mungkin masih banyak hal positif lain yang akan terjadi.

Yah, mungkin ini sekedar uneg-uneg dari saya. Dan semoga bila ada aparat negara yang membaca tulisan ini dapat menerapkan atau paling tidak membuat keputusan yang mendekati pemikiran saya ini

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s