Berpikir Positif

Kali ini saya tidak memposting hal-hal yang berbau teknologi, coding, dll. tapi kali ini saya akan membagikan hasil semedi saya tentang kehidupan.

Jadi orang itu harus positive thinking bro… Woles aja kali

Mungkin banyak dari kita yang sering mendengar kata-kata seperti itu baik dari kerabat ataupun keluarga ketika kita sedang berhadapan dengan keadaan yang sulit. Sebagai contoh misalnya anda membuat acara pesta dengan harapan bila semua teman-teman anda di masa lalu (reunian) akan datang, tapi pada kenyataannya hanya segelintir orang saja yang datang.

Menghadapi kenyataan bila acara anda gagal, pastinya teman anda akan berkata positive thinking aja bro, siapa tau yang laen lagi pada sibuk ngapain gitu.

Ya, di lihat dari percakapan di atas tentunya anda di minta untuk pasrah pada kenyataan bila acara yang anda buat gagal. Apakah yang seperti ini bagus/baik untuk kehidupan kita? Mari kita telaah lebih jauh lagi.

Jujur saja, saya ini tipe orang yang tidak suka yang namanya positive thinking. Mengapa?

Karena orang-orang seperti itu cenderung pasrah pada kenyataan dan cenderung tidak dapat berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan.

Mungkin karena saya di lahirkan sebagai seorang anak tehnik, saya selalu menggunakan logika ketika berpikir. Dalam artian, selalu ada plan A, plan B, dsb dalam melakukan segala sesuatu untuk menghindari kegagalan walaupun kemungkinan gagal itu masih ada karena faktor X.

Intinya tidak ada yang namanya takdir sudah di tentukan. Takdir itu kita yang mengatur, melakukan hal A pasti hasilnya B. Tidak mungkin kalau main air tidak basah, ada sebab ada akibat.

Ada sebab ada akibat, mari kita telaah lagi kasus reuni tadi. Penyebab kegagalan acara tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

  • Jarkom kurang kuat
    Yap, yang satu ini sering kali menjadi kambing hitam dari gagalnya sebuah acara dan memang inilah salah satu faktor penting yang akan mengindikasikan apakah acara anda akan berhasil atau tidak.
    Kalau kalian sudah bekerja, mungkin atasan kalian sering kali mengatakan friendly reminder. Yap, ini yang penting.

    Misalkan pada tanggal 10 January si Udin mengatakan bisa datang ke acara tersebut, tapi nyatanya dia tidak datang. Andai saja anda melakukan yang namanya friendly reminder, si Udin kemungkinan besar akan datang ke acara tersebut. Bisa saja dia lupa akan acara tersebut, atau bahkan si Udin mengkonfirmasi ulang bila ia berhalangan hadir ke dalam acara tersebut.

    Kita anggap orang yang seperti Udin ini ada banyak (berhalangan hadir pada hari H), bisa kan kita mengatur ulang acara tersebut akan di adakan kapan, agar semua orang bisa hadir

  • Melihat dari sudut pandang yang berbeda
    Melihat dari sudut pandang yang lain adalah hal utama dalam setiap kegiatan yang akan kita lakukan. Mungkin anda bingung dengan perkataan saya ini, mari kita telaah lebih dalam lagi.

    Misal dalam acara reuni tersebut membutuhkan setiap membernya untuk membayar sebesar 10 juta rupiah dan ternyata pada hari H tidak ada yang datang, mengapa? Coba anda bayangkan bila menjadi orang lain yang keadaan ekonominya kurang dari apa yang anda miliki sekarang, apakah anda akan mengeluarkan dana sebesar 10 juta hanya untuk acara reuni? Tentu tidak bukan?

    Melihat dari sudut pandang lain itu bukan hanya soal perekonomian, tapi banyak aspek lain yang harus di lihat. Misal anda seorang usahawan yang dapat dengan mudah pergi kemana pun anda mau, lalu anda mengadakan acara reuni di hari kerja (Senin – Jumat) dan pada jam sibuk (08.00 – 16.00). Sudah pasti teman-teman anda yang bekerja kantoran tidak akan bisa datang. Masih banyak hal lain yang harus anda perhatikan

  • Perencanaan kurang matang
    Inilah kambing hitam ke dua bila ada cara yang gagal. Mengapa demikian? Tau istilah FIFO (first in first out)? Beginilah cara sebagian/semua orang dalam mengatur jadwal hidupnya.

    Sebagai contoh, pada tanggal 5 January anda mendapat undangan dari rekan kantor anda untuk menghadiri acara kumpul-kumpul bareng pada tanggal 10 January. Dan pada tanggal 9 January, anda mendapatkan undangan dari teman-teman semasa anda sekolah dulu untuk kumpul bareng di tanggal 10 January dan pada jam yang sama. Menurut anda, mana acara yang lebih kuat atau lebih tinggi derajatnya? Sudah pasti yang masuk pada tanggal 5 January bukan?

    Yap, seperti itulah yang namanya perencanaan. Rencana harus sudah matang jauh-jauh hari sebelum hari H agar tidak bentrok seperti itu. Bisa saja si anda menghadiri acara reuni tersebut kalau undangannya anda terima pada tanggal 5 January.

Itulah sebagian kecil dari persiapan yang harus anda lakukan sebelum melakukan sesuatu. Setelah membaca semuanya di atas, apakah anda masih jadi orang yang ‘postive thinking’ dan pasrah akan keadaan?

Saya harap, anda tidak lagi menjadi orang yang gampang pasrah pada kenyataan. Ayo, refleksikan apa yang sudah anda lakukan dan gagal, belajar dari hal tersebut dan lakukan yang terbaik di masa depan agar tidak lagi jatuh di lubang yang sama. Selamat beraktivitas!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s